Awal Mula Kampung Danauruyan
Danauruyan kampung ini dulunya hanyalah hutan yang ditinggali oleh suku dayak lawangan, mayoritas pohon yang ada di hutan adalah durian. Juga terdapat danau yang sangat dalam dan tidak pernah surut walaupun sedang musim kemarau, konon katanya di dalam danau ini terdapat seekor naga. Tetapi mitos tersebut sudah tidak terdengar lagi seiring zaman yang sudah semakin modern.
Di hutan ini terdapat sungai bernama karau yang menjadi akses para pedagang dari beberapa daerah di kalimantan ini sendiri. Konon katanya di waktu yang lebih dulu lagi, para pedagang yang datang ke Ampah banyak yang tidak pulang dan hilang entah ke mana. Seringkali adapula yang menemukan kepala-kepala manusia di sekitar aliran sungai karau. Hal ini disebabkan oleh seorang 'raja' yang katanya pemilik tanah dan bumi di Ampah. Sampai ada seorang yang sama saktinya mengalahkan 'raja' tersebut dan para pendatang bisa berdagang ke Ampah dengan aman.
Sehingga sampailah para pedagang itu ke Danauruyan melewati sungai karau yang alirannya memang menuju ke Ampah dan sampai ke sungai Barito.
Para pendatang berdagang dengan cara menukarkan barang yang mereka bawa, seperti kain-kain dan lain sebagainya dengan makanan pokok seperti beras, sayuran serta ikan milik suku dayak, khususnya suku dayak lawangan yang tinggal di Danauruyan.
Sampai beberapa pedagang yang banyak berdatangan dari suku bakumpai mulai membeli tanah-tanah milik suku dayak lawangan dan tinggal menetap sehingga menghasilkan banyak keturunan-keturunan. Para keturunan ini kemudian menikah dengan sesama pendatang yang berbeda suku seperti banjar dan jawa, ataupun dengan sesama bakumpai itu sendiri. Semakin banyak orang yang datang, sehingga jadilah sebuah perkampungan bernama Danauruyan. Masyarakat dayak lawangan beberapa juga ada yang masih tinggal di Danauruyan.
Hutan-hutan di tebang dijadikan rumah tinggal, sawah dikelola agar banyak menghasilkan padi dan jadi beras untuk makan sehari-hari, hutan karet disadap menghasilkan getah-getah untuk dijual, dan beberapa ada yang membuka toko sembako yang barang-barangnya semua dibeli dari kota.
Jalan yang pada tahun 1976an masih setapak, berlumpur dan penuh akar-akar pohon mulai ditimbun batu-batu dan mulai di aspal sekitar tahun 2009/2010.
Rumah-rumah penduduk pun sudah mulai padat karena selain para pendatang, anak-anak dari keturunan juga banyak dan sudah berkeluarga sendiri dan menghasilkan anak-anak lagi.
Demikian cerita dari saya apabila ada kekeliruan boleh disampaikan di kolom komentar :) cerita ini bersumber dari ibu saya yang merupakan pendatang di kampung Danauruyan. Terimakasih..
Komentar
Posting Komentar